“Siapa yang mengenal dirinya, maka dia (akan mudah) mengenal Tuhannya“
Pepatah ini sering bermain dibibir-bibir mereka yang berkelana dalam perjalanan mereka menuju tuhannya. Sang penempuh jalan ini digelar “salik” dan perjalanannya itu digelar “suluk”. Manakala “menempuh jalan suluk” pula bererti memasuki sebuah disiplin selama seumur hidup untuk menyucikan qalb (QALBU) dan membebaskan nafs (jiwa) dari dominasi jasadiyah (zahiriah) dan keduniaan. Biasanya seorang penempuh jalan (salik) ini perlu dibimbing dibawah bimbingan seorang GURU yang digelar mursyid. Sang guru ini pula haruslah “guru sejati” iaitu seorang yang telah meraih pengenalan akan diri sejatinya dan Tuhannya (Rabb-nya), dan telah diangkat oleh Allah sebagai seorang mursyid bagi para pencari-Nya). Tugasnya adalah untuk membimbing sang salik untuk mengendalikan hawa nafsu, membersihkan qalb, juga belajar Al-Quran dan belajar agama, hingga ke tingkat hakikat dan makna. Dengan bersuluk, seseorang akan cuba untuk beragama (menghayati agama) dengan lebih dalam daripada sekadar melaksanakan syariat semata-mata tanpa berusaha memahami ibadatnya itu. Melalui bersuluk, seseorang mengenali & menghayati (hayat = hidup) akan dirinya untuk menuju (mengenal) Tuhannya (Rabb-nya). Sang Salik ini sedang mendalami ILMU MA’RIFAT!
“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”,
bukan semata-mata bermaksud “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”. Kata “‘Arafa” (juga “Ma’rifat”) berasal dari kata ‘arif, yang bermakna “sepenuhnya memahami”, “mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya”. Ia bukan sekadar bermaksud mengenal atau mengetahui , ia LEBIH BESAR dari makna dasarnya itu. Pepatah “TAK KENAL MAKA TAK CINTA” seolahnya menggambarkan bahawa kata “kenal” merangkumi TAHU (‘arif), FAHAM SEPENUHNYA dan TAHU HAKIKAT KEBENARANNYA, sebelum mencetuskan RASA CINTA itu. Maka seharusnyalah tatkala mula sudah kenal (‘arif) justeru rasa cinta yang terbit itu lebih suci sifatnya.
Manakala kata “nafsahu” pula berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia iaitu jasad, nafs dan ruh. Jadi, lebih kurangnya maksud pepatah “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya” ini adalah: “barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabb-nya”. Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki - mengenal Allah, hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu. Setelah ‘arif akan nafs kita sendiri, lalu akan ‘ariflah kita akan Rabb kita, maka setelah itu barulah kita mampu / boleh mula melangkah di atas ‘Ad-diin’.
‘Arif akan Rabb, atau dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah “awal” perjalanan. Ia bukanlah tujuan akhir perjalanan sebagaimana yang difahami oleh kebanyakan di kalangan kita. ILMU MA’RIFAT bukanlah FAHAMAN bahawa ia adalah gambaran tingkatan ilmu untuk orang HEBAT SPIRITUALNYA, ia adalah ILMU YANG AWAL yang seharusnya dikuasai oleh mereka yang bersungguh mencari RABB-NYA. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang terkenal: “Awaluddiina ma’rifatullah” yang bermaksud Awalnya (mulanya) diin adalah ma’rifat (meng-’arif-i) Allah.
Maka, apakah ITU jalan ma’rifatullah?? Jalan itu adalah, setiap saatnya dia (salik) berusaha untuk menjaga dan menghadapkan qalb nya kepada Allah semata. Tanpa lelah, tanpa berhenti sesaat pun. Melatih esensi rasa ini hingga sebati pada dirinya sambil melaksanakan syari’at Islam sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Pengibadatannya diperlipat-gandakan, menyempurnakan yang wajib dan menghidupkan yang sunnah, samada secara zahir mahupun batinnya. Segalnya demi mengendalikan sifat lemah makam nafsunya, jasadnya, merawat jiwanya, mengubati QALBU-nya, membersihkan (takhalli) qalb-nya itu dan mendekatkan dirinya kepada Rabb-nya (taqarrub). Kata Rasullullah :
“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.” (Hadits Qudsi riwayat Bukhari).
Saudara-saudaraku.. ayuh kita palu (RESQ56) titik-titik tenaga pada tubuh ini sambil menggetarkan ritma minda dan qalbu agar GEGARNYA “hanya untuk hari ini, DEMI-MU TUHAN.. bimbinglah aku bertemu ILMU Ma’rifat-Mu (meng-’arif-i). Permudahkanlah suluk (jalan) itu agar aku bisa menjadi salik (penempuh jalan) itu”.
Wallahualam..
Master G
PS: Ayuh kita mulakan paluan RESQ56!!
PSS: Ayuh kita ‘cuci’ makam QALBU di malam NUZUL AL-QURAN pada 17 Ramadhan ini. Ayuh bersama saya untuk Pengijazahan NUR AL-LATA’IF QALB !!!

tiada kena mengena dengan artikel










